Meretas Jalan Tingkatkan Pelayanan


Selain itu, di jalan-jalan protokol sudah tampak para penyapu jalan dan pengangkutan sampah pun dimulai. Begitulah keseharian pasukan kuning untuk menyelamatkan warga Kota Bogor dari ancaman dan bahaya akibat yang ditimbulkan sampah.



Menurut data, tercatat lebih dari 2.447 m3/hari sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Menangani sampah sebanyak itu setiap hari, memang bukan pekerjaan mudah dan sederhana.

Pemkot Bogor dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan tentu membutuhkan sistem pengelolaan, manajemen, dana, sarana dan prasarana, sumber daya manusia (SDM) serta teknologi yang memadai.

Selain itu, tentu dukungan masyarakat dalam hal pemeliharaan kebersihan, terutama di lingkungannya masingmasing. Jika tidak mendapat dukungan dari warga, sulit diharapkan Bogor menjadi kota yang bersih indah dan nyaman (Beriman).

Memang, masalah sampah sudah menjadi persoalan universal karena sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika perkembangan kota. Masalah itu dialami juga oleh kota-kota di dunia, termasuk Indonesia. Walikota Bogor Diani Budiarto mengaku prihatin dengan persoalan sampah dan kebersihan kota. “Kita bisa lihat, di beberapa lokasi tumpukan sampah masih berserakan. Jadi, perlu pemikiran bersama bagaimana mengatasi persoalan sampah ini,” katanya.

Oleh karena itu, pada setiap kali kesempatan Diani mengajak warga untuk kembali pada komitmen budaya bersih. Pemkot sendiri menghadapi keterbatasan, baik dalam personel maupun sarana dan prasarananya. Apalagi, dengan perluasan kota yang sudah lima kali lipat dibandingkan pada 1980-an. Boleh jadi, sejak lima tahun silam Pemkot menempatkan masalah kebersihan kota menjadi salah satu skala prioritas pembenahan, selain tiga masalah krusial lainnya, yaitu transportasi, pedagang kaki lima, dan kemiskinan.

Menghadapi tantangan seperti ini, sebenarnya Pemkot Bogor, dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan, tengah meretas jalan guna meningkatkan pelayanan dengan  encoba mengurai satu per satu, seperti peremajaan dan pemeliharaan armada pengangkutan.

Selain itu, peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pengurangan sampah melalui pengelolaan berkonsep 3R (reuse, reduce, recycle), serta perpanjangan kerja sama pengelolaan sampah TPA Galuga   dengan Pemkab Bogor. Ini semua adalah wujud keseriusan pasukan kuning menangani masalah sampah di Kota Bogor.

Kendati belum memberikan harapan semua pihak, langkahlangkah tersebut telah berperan besar dalam melahirkan beberapa capaian positif penanganan kebersihan di Kota Bogor. Salah satunya, adalah meningkatnya luasan wilayah layanan dari tahun ke tahun. Di tahun 2012, kenaikan luas wilayah layanan persampahan mencapai 12,7 hektare dibandingkan dengan luas wilayah layanan persampahan di tahun sebelumnya.

Cakupan luas wilayah pelayanan pada 2012 tercatat mencapai 8.318,7 hektare atau sekitar 70,2 persen dari total wilayah Kota Bogor seluas 11.850 hektar.

Meningkatnya luas wilayah pelayanan ini, menyusul jangkauan kerja pasukan kuning ke wilayah Kecamatan Bogor Selatan, khususnya di Kelurahan Ranggamekar, di Kecamatan Bogor Utara wilayah Kelurahan Tanah Baru dan Kelurahan Cibuluh, di Kecamatan Bogor Barat wilayah Kelurahan Pasir Kuda dan Kelurahan Semplak.

Sedangkan di wilayah Kecamatan Tanah Sareal adalah Kelurahan Mekar Wangi. Indikator kebersihan lain yang juga mengalami peningkatan adalah jumlah sampah terangkut yang sampai dengan akhir tahun 2012 mencapai 1,718 meter kubik per hari atau sekitar 70,21 persen dari total timbulan sampah sekitar 2.447 meter kubik per hari.

Capaian ini naik sebesar 33 meter kubik per hari dari capaian serupa di tahun 2011. Kenaikan ini terutama didukung oleh jumlah armada efektif, yaitu 63 unit dump truck, 29 unit arm roll, 3 unit compactor truck, 7 unit kijang pick up, 15 unit gerobak motor, dan 105 unit container yang tersebar di wilayah pelayanan.

Upaya Pemkot Bogor mengubah pola penanganan sampah di Kota Bogor masih didominasi oleh manajemen pengelolaan dengan pola kumpul, angkut dan buang. Pilihan ini tak terhindarkan, kendati pola kumpul, angkut dan buang menjadikan penanganan kebersihan kota menjadi pekerjaan berat.

Karena pemerintah harus menyediakan sarana pengangkutan, personel dan tempat pembuangan akhir (TPA) yang representatif. Maka mengandalkan sepenuhnya kemampuan untuk terus meningkatkan kapasitas angkut dan buang sampah ke TPA Galuga.



Oleh karena itu, dituntut peran serta masyarakat dalam mengelola sampah di lingkungannya secara mandiri. Antara lain, melalui pengelolaan sampah yang mengedepankan konsep 3R, baik untuk skala kawasan atau lingkungan, maupun skala individu mulai dikembangkan secara sistematis melalui pendekatan berbasis masyarakat. Paling tidak ada tiga konsep yang tengah d kembangkan Pemkot Bogor. Yakni, program reduksi volume sampah yang masuk ke TPA Galuga, Konsep 3R berbasis masyarakat dan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Sementara itu, pemerhati lingkungan dari LSM Green Community, Cepi Al Hakim, mengatakan bahwa masalah kebersihan kota di mana pun, termasuk Bogor, butuh upaya holistik dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkot Bogor selama ini perlu mendapat apresiasi semua pihak.

”Kami rasa inilah tantangan paling berat yang dihadapi Pemkot Bogor. Apalagi di era saat ini dengan melihat kenyataan di masayarakat yang tingkat kepeduliannya terhadap kebersihan kota masih sangat rendah,” ujar Cepi. Kendati begitu, Pemkot Bogor harus berani menghadapi tantangan ini. Kalau tidak, sampai kapan pun sampah akan menjadi masalah krusial di Kota Bogor.

Salah satu contoh di Jepang misalnya, tambah Cepi, masyarakat Jepang tentu saja tidak mengenal konsep ’kebersihan sebagian daripada iman’ sebagaimana di negeri kita yang mayoritas Muslim. Namun, semangat dan disiplin mereka dalam menjaga kebersihan sama sekali tidak diragukan. ”Saya rasa, kita tidak salah untuk meniru konsep kota-kota di Jepang dalam mengelola sampah, bagaimana mereka bisa berhasil menjadikan kotanya tertib dan bersih,” kata Cepi.



Pengolahan sampah yang efektif, tambah Cepi, adalah sinergi dari semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Hal ini untuk mengurangi permasalahan sampah yang kian menggunung serta keterbatasan ruang di tempat pembuangan akhir.

Konsep yang tengah dikembangkan Pemkot Bogor saat ini yakni, sistem mengolah yang biasa disebut sebagai 3R ini sudah tepat. Lewat prinsip ini, sebisa mungkin barangbarang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi.


”Walaupun tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi sudah banyak industri informal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain,” tukasnya. (adv/sam)

CopyRight@Kantor Kominfo Kota Bogor